Trying to get property of non-object [ On /var/www/virtual/jpop.com/public_html/generatrix/model/youtubeModel.php Line 63 ]
Elly Kasim - JPop.com
Artist info
Elly Kasim

Elly Kasim

Elly Kasim


Elly Kasim (lahir di Tanjung Mutiara, Agam, Sumatera Barat, 27 September 1944; umur 69 tahun)merupakan seorang penyanyi berkebangsaan Indonesia yang sering membawakan lagu-lagu Minang. Kiprahnya dalam memperkenalkan kebudayaan Minangkabau, terutama tari dan nyanyi, telah diakui hingga ke mancanegara. Berkat suara emasnya, lagu-lagu Minang makin populer dan digemari masyarakat di luar daerah Padang. Tapi sayang, hingga saat ini belum juga bermunculan penerusnya, yaitu penyanyi-penyanyi Minang yang memiliki kemampuan seperti dia. Read more on Last.fm
Elly Kasim (lahir di Tanjung Mutiara, Agam, Sumatera Barat, 27 September 1944; umur 69 tahun)merupakan seorang penyanyi berkebangsaan Indonesia yang sering membawakan lagu-lagu Minang. Kiprahnya dalam memperkenalkan kebudayaan Minangkabau, terutama tari dan nyanyi, telah diakui hingga ke mancanegara. Berkat suara emasnya, lagu-lagu Minang makin populer dan digemari masyarakat di luar daerah Padang. Tapi sayang, hingga saat ini belum juga bermunculan penerusnya, yaitu penyanyi-penyanyi Minang yang memiliki kemampuan seperti dia.

Sejumlah lagu-lagu Minang yang dibawakan perempuan kelahiran Tiku, Kabupaten Agam, Sumatera Barat pada 27 September 1944 itu, terkenal hingga hari ini. Sebut saja lagu AyamDen Lapeh, Barek Solok, Kaparinyo, Si Nona, Lamang tapai, Dayung Palinggam, Kelok Sembilan, Roda Padati, dan Mudiak Arau. Lagu-lagunya telah dimuat dalam puluhan piringan hitam, kaset, maupun VCD selama 45 tahun. Meski lagu-lagu yang dibawakannya adalah lagu daerah, tapi ia mampu menjadi legenda di antara penyanyi-penyanyi kawakan di Tanah Air. Hampir tiga perempat dari usianya dihabiskan Elly di Jakarta.

Ketika usianya masih beberapa bulan, ibunya, Emma Effendy berpisah dengan ayahnya, Kasim. Ia pun diasuh oleh sang nenek di Jakarta. Lalu ketika mulai masuk sekolah dasar, neneknya yang berprofesi sebagai guru di Jakarta, pensiun dan memilih pulang ke kampung halaman. Elly pun kembali tinggal dengan ibunya dan ayah tirinya, Ali Umar di Bukit Tinggi, Sumatera Barat, dan meneruskan sekolahnya di sana. “Ketika saya akan naik kelas III SMP, kami sekeluarga pindah ke Pekanbaru, karena papa pindah tugas ke sana,” katanya. Menamatkan SMA-nya pada 1950-an, Elly pun hijrah kembali ke Jakarta sampai sekarang. Saat itu ia tinggal bersama salah seorang pamannya.

Di tempat itulah ia mulai memasuki dunia tarik suara. Ketika tiba di Jakarta untuk kali kedua itu, lagu Minang berjudul Ayam Den Lapeh yang dianalogikan sebagai kehilangan kekasih, tengah populer dinyanyikan kelompok Orkes Gumarang. Tak hanya di Jakarta, lagu itu pun terdengar di hampir seluruh pelosok Padang setiap hari. “Lagu-lagu yang dibawakan Orkes Gumarang semuanya bagus-bagus sehingga disenangi masyarakat, bahkan tidak cuma oleh orang Padang tapi juga dari suku lain. Soalnya walau lagu Minang, tapi lagu-lagu mereka mudah dicerna dan dinikmati masyarakat dari luar Padang. Karena sering mendengarkan lagu-lagu mereka, saya pun jadi ingin bisa menyanyi.

Saat itu usia saya sekitar 17 tahun,” ujar Elly yang dipersunting Nazif Basir ini. Ia pun mulai mencoba ikut tes menyanyi di Radio Republik Indonesia (RRI) Jakarta. Waktu itu televisi belum ada, dan untuk bisa bernyanyi di RRI harus mengikuti seleksi layaknya sebuah festival. Lagu Titik Puspa berjudul Esok Malam Kau Ku Jelang, yang dibawakannya ketika itu, membuatnya berhasil lolos seleksi. Selanjutnya ia diminta sang paman untuk bergabung bersama teman-temannya dalam kelompok band Minang, Gatario. Di kelompok band itu ia tampil bersama pimpinan orkes Kumbang Tjari, Nuskan Syarif. “Tidak lama setelah Nuskan Syarif bergabung bersama kami, datang tawaran rekaman.

Waktu itu kami membawakan lagu berjudul Lamang Tapai, Mayang Ta’ Urai, Sala-lauak, dan lain-lain,” ia menjelaskan. Ia beruntung, karena sejak kehadiran Orkes Gumarang yang dipimpin Asbon Majid, lagu-lagu daerah Minang mulai digemari masyarakat luas, tidak terkecuali oleh masyarakat di luar Padang. Maka ketika album pertama mereka beredar, masyarakat pun menyambut baik. “Zaman dulu lagu daerah banyak diminati masyarakat, dan ujung tombak lagu daerah ketika itu lagu-lagu Minang. Dan pelopor lagu pop Minang adalah Orkes Gumarang. Setelah Orkes Gumarang muncul, barulah mulai bermunculan lagu-lagu daerah lain,” tuturnya.

Read more on Last.fm. User-contributed text is available under the Creative Commons By-SA License; additional terms may apply..
Top Albums

show me more

showing 4 out of 20 albums
Shoutbox
No Comment for this Artist found
Leave a comment


Comments From Around The Web
No blog found
Flickr Images
No images
Related videos
No video found
Tweets
No blogs found